Sukanalu, Telusur Jejak Puteri Hijau Di Tanah Karo

Salah satu cerita rakyat paling popular di Sumatera Utara adalah kisah Puteri Hijau (Green Princess). Namanya diabadikan sebagai nama sebuah jalan besar di pusat kota Medan dan kisahnya dituturkan guru-guru di sekolah dasar sebagai cerita dongeng. Inilah dia, sekelumit kisah Puteri Hijau yang katanya cantik tak terperi.

 

Cerita Puteri Hijau itu sampai kini masih abadi. Dikenal di semua kalangan dan kisah kepahlawanan (folkhero)ini menjadi milik paling tidak dua suku terbesar di Sumatera Utara, Suku Batak Karo dan Melayu. Dua suku besar yang dikait-kaitkan sebagai tonggak sejarah kota Medan. Ada banyak versi cerita Puteri Hijau. Kisah ini awalnya adalah tradisi lisan (oral) masyarakat komunal, berasal dari satu daerah dan diturunkan secara informal. Sebagai tradisi lisan, kisahnya berubah-ubah, ditambah dan dikurangi oleh penuturnya sehingga berkembang menjadi berbagai versi.

Kisah Putri Hijau yang berkembang luas di masyarakat Melayu Deli serta Karo, lebih dikenal sebagai cerita dongeng ketimbang sebagai fakta sejarah. Erond L Damanik, dosen di Ilmu Sejarah Unimed menulis bahwa berdasarkan studi literatur, studi dokumen, dan bukti-bukti sejarah, kisah Putri Hijau merupakan fakta sejarah yang benar-benar terjadi. Hanya saja, dominasi unsur imajinatif membuat kisah ini seolah-olah fiktif.

Kisah Puteri Hijau erat kaitannya dengan kisah Kerajaan Aru yang pernah berjaya di Sumatera Timur. Sejarah mencatat bahwa laskar Aceh menyerang Kerajaan Aru. Sejak kejatuhan Aru ke tangan Aceh, Mc Kinnon, sejarawan Inggris menulis bahwa centrum kerajaan Aru yang baru berpusat di Deli Tua (Old Deli) serta dipimpin oleh ratu Aru yang didukung oleh Portugis dan Kerajaan Johor. Ratu Aru inilah yang disebut sebagai Putri Hijau.

Bukti-bukti peninggalan kisah Puteri Hijau ini ada di berbagai tempat di Sumatera Utara. Benteng alam Puteri Hijau di Delitua adalah salah satunya. Juga pecahan meriam yang ada di Istana Maimon. Meriam ini menurut Pinto, penguasa Portugis di Malaka pada tahun 1512-1515 dibeli dari seorang pelarian Portugis.

Meriam puntung yang ada di istana Maimon ini diyakini sebagai pecahan Nini Meriam Sukanalu. Patahan meriam ini diletakkan di bawah sebuah bangunan mirip Geriten Karo dan ditempatkan di sebuah bangunan adat Karo. Bukti keterkaitan kisah yang sama-sama diyakini kedua suku ini walaupun dengan versi berbeda.

Di Desa Sukanalu, Tanah Karo, yang dapat ditempuh sekitar 8 Km ke arah Tiga Panah bukti peninggalan itu berupa patahan meriam puntung yang diduga pasangan yang ada di Istana Maimon, meskipun menurut Putra Sitepu, juru kunci yang menemani perjalanan kami, pecahan tersebut belum pernah dicocokkan. Hingga sekarang situs ini anggap keramat oleh masyarakat setempat dan mempunyai nilai mistis. Situs ini kerap dibersihkan dan diberi cibal-cibalen atau sesajen.

Situs Meriam Puntung Yang Disakralkan Masyarakat Sekitar
Situs Meriam Puntung Yang Disakralkan Masyarakat Sekitar

Sukanalu dan Meriam

Perjalanan kami menuju Desa Sukanalu adalah perjalanan ingin tahu. Rasa penasaran membawa kami ke sana.

Ternyata pecahan meriam tersebut berada dalam kompleks sederhana. Dipagari dengan tembok dan diletakkan dalam sebuah bangunan permanen berterali besi dengan atap ijuk mirip dengan rumah adat karo. Sekeliling kompleks tumbuh bermacam pohon besar sejenis beringin. Ukurannya sangat besar. Akar-akar tunggangnya kelihatan jelas. Menyembul di tanah. Beberapa terlihat menjuntai, memberi kesan mistis tempat ini.

Lokasinya tak jauh dari pemukiman penduduk. Begitu sampai di Desa Sukanalu, penduduk desa akan segera memberi tahu arah dan tak sungkan menunjukkan rumah penjaga atau juru kunci. Agaknya tempat ini biasa dikunjungi orang, sekadar ingin tahu seperti kami atau untuk berziarah seperti kebanyakan yang datang. Begitu menurut Putra Sitepu.

Sekitar Situs, Pohon Beringin Besar yang Memberi Kesan Tak Boleh Sembarangan
Sekitar Situs, Pohon Beringin Besar yang Memberi Kesan Tak Boleh Sembarangan

Ruangan kecil tersebut dikunci untuk mencegah pencurian. Pasalnya, dulu, pecahan meriam ini pernah hilang dicuri orang. Ceritanya, meriam ini dicuri oleh salah seorang dukun besar kampung untuk menambah kekuatan. Ritual pengembaliannya dengan mengadakan ritual panggil arwah leluhur. Setelah ditemukan kembali, pecahan meriam ini lebih dijaga keamanannya.

Ruangan 6×6 meter itu dipenuhi dengan puluhan kain putih menutup dinding dan langit-langitnya. Kain putih ini dalam bahasa Karo disebut Uis Dagangen. Biasa digunakan dalam upacara ada dan penyembahan leluhur. Kain ini dibawa oleh para pejiarah yang datang “berdoa” kepada meriam.

Entah untuk menambah suasana mistis atau sekadar bereksperimen, Putera menggesek-gesekkan jari telunjuknya yang terlebih dahulu telah dibasahi air ke sebuah mangkok yang juga sudah disediakan. Sebuah bunyi melengking menggema dalam ruangan. Ngik… ngik… ngik… Suara itu terus terdengar selama Putera menggesek-gesekkan tangan. Kami bergantian mencoba, tapi karena belum berpengalaman kami tidak berhasil menimbulkan bunyi seperti dilakukan Putra. “Untuk apa ini?” tanya saya penasaran. “Saya juga enggak tahu,” kata Putra terkekeh. Saya tidak bertanya lagi. Tohmenurut ilmu fisika itu terjadi karena gaya gesekan antara jari dan mangkok putih.

Saya Mengangkat Pecahan Meriam dengan Susah Payah
Saya Mengangkat Pecahan Meriam dengan Susah Payah

Kemudian kami meperhatikan pecahan meriam yang ada di depan kami. Diana, salah seorang teman, tidak mau masuk ke dalam ruangan itu. Ngeri katanya. Ia hanya melihat dari luar, dari balik jeruji besi. Beberapa tangkai kembang sedap malam ada dalam vas di ruangan tersebut. Aroma minyak rempah kuat tercium. Dua buah pembakaran rempah atau kemenyan ada di depan meriam. Meriam diletakkan di atas sebuah wadah seperti meja kecil yang telah dilapisi kain putih. Simbol penghormatan terhadap sesuatu yang dianggap sakral. Sepertinya pecahan ini adalah moncong meriam, melihat kepada bentuknya. Tapi saya juga tidak tahu persis.

Putra menyilakan kami mengangkat meriam. Biasanya para pejiarah juga melakukan itu. “Kami bukan mau jiarah atau minta sesuatu,” kata saya menjelaskan. “Oh, tidak apa-apa. Coba saja angkat,” saran Putra. Menurutnya hanya orang-orang yang berhati tulus saja yang dapat mengangkat meriam. Atau seseorang yang dengan yakin mengangkatnya.

Sang Juru Kunci Melakukan Ritual Kecil
Sang Juru Kunci Melakukan Ritual Kecil

Satu persatu kami bergantian mengangkat pecahan meriam yang mirip batu. Hanya satu orang yang berhasil padahal pecahan meriam kelihatan tidak tidak terlalu berat. Tidak ada yang tahu persis berapa beratnya. Pecahan ini belum pernah ditimbang, begitu menurut Putra. Yang pasti saya tidak berhasil mengangkatnya. Biasanya mengangkat galon air seberat 10 Kg saya dapat, tetapi pecahan meriam ini tidak. Saya memang sedikit nervous karena nunansa mistis yang dibangun di tempat ini.

 

sumber;http://kemanaaja.com/sukanalu-telusur-jejak-puteri-hijau-di-tanah-karo/

Iklan
Pos ini dipublikasikan di artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s