Surga Kecil di Tanah Karo

fotosejarahkaro-2Karo merupakan sebuah kabupaten yang terdapat di provinsi sebelah utara Pulau Sumatera, Sumatera Utara. Menuju kab. Karo dapat ditempuh sekitar 2 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor dari ibukota provinsi Sumatera Utara.

Batak karo ataupun yang biasa disebut karo merupakan suku asli yang mendiami kab. Karo, Sumatera Utara. Sama dengan suku-suku lainnya, Suku Karo juga memiliki ciri khas pada tempat tinggal mereka yang bernama Rumah Siwaluh Jabu. Siwaluh Jabu sendiri memiliki makna yakni dalam satu bangunan akan ditinggali oleh 8 keluarga yang berbeda. Oleh karena itu, rumah adat ini memiliki ukuran yang luas.

Selain rumah adat, suku Karo juga memiliki ciri khas dalam berpakaian. Suku Karo dalam acara adatnya menggunakan pakaian Beka Buluh dan Uis Nipes. Beka Buluh merupakan selendang khas berbentuk segitiga yang dipakai pria pada setiap upacara adat dengan mengalungkan di leher. Berbeda dengan Beka Buluh, Uis Nipes merupakan selendang yang biasa dipakai oleh perempuan dalam setiap upacara adat.

Tidak hanya itu, Kab. Karo menyimpan sejuta nirwana yang tersembunyi di balik indahnya pegunungan. Hal tersebut disebabkan oleh letak kab. Karo yang berada pada dataran tinggi yang kelilingi berbagai gunung, ngarai, dan lembah. Salah satu wisata yang terkenal di kab. Karo adalah Bukit Gundaling. Bukit Gundaling menyediakan pemandangan sebagian kota Berastagi dari ketinggian serta kemegahan Gunung Sinabung.

Iklan
Kutipan | Posted on by | Meninggalkan komentar

Gunung Sibayak, Puncak Sumatera Utara

Danau Toba, Pulau Samosir, dan Air Terjun Dua Warna masih belum cukup mewakili keragamanpanorama alam Sumatera Utara. Ingin merasakan wisata mendaki ketinggian gunung? Jika jawabannya Ya, maka ini adalah pilihan yang sangat sesuai bagi Anda. Terutama yang senang “bersusah-susah” untuk menikmati keagungan alam ciptaan Sang Kuasa. Gunung Sibayak, hanya dengan berjuang mendaki dari awal hingga ke puncaknya-lah Anda akan dapat menyaksikan bentangan pemandangan luar biasa dengan petualangan yang tak terlupakan. Tak jarang pula gunung ini disebut dengan “Gunung Raja”, sebab arti dari kata Sibayak itu sendiri adalah “Raja”. Menurut cerita penduduk, dahulunya tanah karo dikuasai oleh 4 Raja (Sibayak), yaitu Sibayak Lingga, Sarinembah, Suka, Barusjahe dan Kutabuluh.

Objek Wisata

Puncak Gunung Sibayak Sumatera UtaraGunung Sibayak adalah kelas gunung berapi aktif yang memiliki uap panas. Selain itu, letusan yang terjadi beberapa waktu lalu cukup mengguncang bebatuan di puncak gunung. Kondisi yang cukup “tidak beraturan” pada bebatuan puncak nya ini, justru menjadi keunikan tersendiri yang menarik wisatawan yang senang menguji adrenalinnya untuk berusaha menaklukkan Gunung Sibayak hingga mencapai puncaknya. Pemandangan matahari terbit dari puncak gunung akan membuat anda terperangah. Kilau kemunculan sinar matahari akan menerpa wajah Anda memberikan suasana hangat, menggantikan hawa dingin yang semalaman menyelimuti perjalanan Anda. Ya, demi melihat sunrise memang ramai pendaki memilih mendaki di malam hari. Idealnya, Anda harus mulai melangkah dari kaki gunung pada pukul 02.00 dini hari. Tidak perlu khawatir, sebab suasana di malam hari tetap akan memukau Anda. Ditambah lagi cahaya-cahaya lampu rumah penduduk yang menerangi langit Gunung Sibayak. Sesaat membuat Anda merasa sedang berada di bulan karena kondisi pijakan selama pendakian yang penuh batuan.

Selain keindahan pemandangan puncaknya, aliran air dari sela-sela batuan gunung akan sangat menyegarkan Anda. Penduduk banyak yang memanfaatkannya sebagai sumber air minum. Air nya dingin dan sangat jernih. Inilah alasan utama sumber air pegunungan yang terus mengalir ini menjadi salah satu sumber air untuk air minum kemasan merek “AQUA”.

Kawah Belerang Gunung SibayakTerlepas dari kawasan puncak, Gunung Sibayak masih menyimpan kemegahannya. Kawasan lainnya yang sering dijadikan objek berfoto bagi para pendaki adalah kawah Gunung Sibayak. Di dalam kawah ini terletak batu cadas dengan kawah belerang seluas 40.000 meter. Kandungan solfatara membuatnya tak berhenti menyemburkan uap panas. Bagian yang landainya dapat dijadikan tempat Anda untuk beristirahat sejenak di dalam tenda. Akhir pekan atau hari libur sekolah akan sangat berpengaruh terhadap pertambahan jumlah pendaki gunung.

Lokasi

Gunung Sibayak berlokasi di dataran tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Ketinggian Gunung yang kerap menjadi objek pendakian ini mencapai 2.094 meter dpl. Secara administratif, hutan alam pegunungan ini masuk dalam dalam kategori Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan. Puncak tertinggi dari Gunung Sibayak bernama “Takal Kuda”. Ini adalah bahasa Karo yang berarti “Kepala Kuda”. Posisi koordinat puncaknya adalah berada pada 97°30’BT dan 4°15’LS.

Akses

Berangkat dari Kota Medan, Anda akan menempuh jarak sejauh 77 km dengan waktu kurang lebih 2 jam untuk sampai di Berastagi. Anda bisa memilih kendaraan roda dua atau roda empat. Setelah itu, untuk mencapai lokasi, terdapat dua pilihan rute, diantaranya perjalanan dari Berastagi atau dari Desa Semangat Gunung.

Terdapat tiga pintu masuk hutan gunung yang bisa Anda pilih untuk menuju puncak Gunung Sibayak. Menelusuri jalan setapak sepanjang hutan tropis dan hamparan tebing curam. Jalur masuk tersebut adalah melalui Desa Raja Berneh (Semangat Gunung), Jalur 54, Penatapan jagung rebus dan Jaranguda yang berjarak sekitar 500 meter dari Kota Berastagi.

Harga Tiket

Anda akan dimintai retribusi sebesar Rp 2.000,- per orang sebelum memasuki lokasi gunung. Jadi pastikan Anda telah menyiapkan uang pas untuk membayarnya.

Fasilitas dan Akomodasi

Posisi Gunung Sibayak yang terletak di Kota Berastagi, akan memudahkan Anda untuk mencicipi kuliner-kuliner khas Berastagi yang dijajakan di sepanjang jalan Kota. Anda juga tidak akan kesulitan menemukan tempat penginapan kelas melati hingga hotel berbintang. Hotel yang direkomendasikan dan dekat dengan objek wisata ini yaitu Grand Mutiara Hotel. Tetapi, di lokasi pegunungan ini, tentunya Anda hanya akan bercengkerama dengan alam asri hutan tanpa ada fasilitas modern di dalamnya.

 

sumber : http://www.gosumatra.com/gunung-sibayak/

Dipublikasi di artikel | Meninggalkan komentar

Air Terjun Sikulikap di Penatapan Berastagi

Siapa sih yang tidak tahu sebuah tempat yang sudah terkenal di daerah Berastagi kabupaten karo, tempat  orang-orang bersantai menikmati jagung rebus/bakar maupun makanan lainnya, sambil memandang luasnya panorama bukit-bukit hijau Berastagi dan bisa melihat monyet Gibon yang berkeliaran bebas di sekitarnya? Yupp, tempat tersebut biasa disebut Penatapanmerupakan salah satu wisata kuliner yang ada di Berastagi. Penatapan berada di jalan Jamin Ginting Km.54 Berastagi dan hanya memakan waktu 1,5 Jam dari Kota Medan. Tapi, tahukah anda? bahwa ada hal lain dari Wisata Kuliner di Penatapan ini yaitu anda bisa sekaligus melihat indahnya air terjun di bawah penatapan ini.
Air Terjun Sikulikap itulah nama air terjun yang ada di bawah Penatapan tersebut. Air Terjun ini tidak kalah indah dan menarik dari air terjun lain yang ada di Sumatera Utara. Air Terjun Sikulikap terletak di desa Doulu, kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Saya bersama teman Abdul Karim baru pertama kali mengunjungi Air Terjun Sikulikap ini pada tanggal 09 Maret 2014, padahal, kami sudah sering ke Penatapannya. Pintu masuk ke lokasi air terjun ini berada di dekat gerbang/gapura perbatasan Deli Serdang dengan Kabupaten Karo.

Pintu Masuk Air terjun sikulikap

Biar lebih aman dan mudah, sebaiknya kendaraan anda, baik mobil ataupun sepeda motor, diparkirkan saja di Warung-warung jagung yang ada di penatapan tersebut. Yah, disarankan jangan hanya numpang parkir kendaraan saja, sebaiknya anda juga makan atau sekedar minum juga di warung jagung yang dititipkan kendaraan anda. 🙂

Warung Jagung Penatapan

Setelah itu, langsung saja menuju pintu masuk lokasi menuju Air Terjun Sikulikap. Saat saya kesana tidak ada pungutan atau kutipan retribusi/uang masuk sama sekali alias Gratiss. Jarak menuju Air Terjun dari pintu masuk sekitar 1 Km. Anda harus berjalan kaki menelusuri hutan dan menuruni anak-anak tangga untuk sampai ke Air Terjun Sikulikap Ini.

Jalan menuju SikulikapJalan menuju Sikulikap

Saya heran, banyak terdapat tempat istirahat berbentuk kursi yangg terbuat dari batu, namun sudah tidak terurus, alias sudah banyak berlumut. Padahal menurut saya ini merupakan Wisata Alam di kabupaten Karo Sumatera Utara yang menarik untuk dikunjungi.

sumber : http://www.medanwisata.com/2014/03/air-terjun-sikulikap-di-penatapan.html
Dipublikasi di artikel | Meninggalkan komentar

Sukanalu, Telusur Jejak Puteri Hijau Di Tanah Karo

Salah satu cerita rakyat paling popular di Sumatera Utara adalah kisah Puteri Hijau (Green Princess). Namanya diabadikan sebagai nama sebuah jalan besar di pusat kota Medan dan kisahnya dituturkan guru-guru di sekolah dasar sebagai cerita dongeng. Inilah dia, sekelumit kisah Puteri Hijau yang katanya cantik tak terperi.

 

Cerita Puteri Hijau itu sampai kini masih abadi. Dikenal di semua kalangan dan kisah kepahlawanan (folkhero)ini menjadi milik paling tidak dua suku terbesar di Sumatera Utara, Suku Batak Karo dan Melayu. Dua suku besar yang dikait-kaitkan sebagai tonggak sejarah kota Medan. Ada banyak versi cerita Puteri Hijau. Kisah ini awalnya adalah tradisi lisan (oral) masyarakat komunal, berasal dari satu daerah dan diturunkan secara informal. Sebagai tradisi lisan, kisahnya berubah-ubah, ditambah dan dikurangi oleh penuturnya sehingga berkembang menjadi berbagai versi.

Kisah Putri Hijau yang berkembang luas di masyarakat Melayu Deli serta Karo, lebih dikenal sebagai cerita dongeng ketimbang sebagai fakta sejarah. Erond L Damanik, dosen di Ilmu Sejarah Unimed menulis bahwa berdasarkan studi literatur, studi dokumen, dan bukti-bukti sejarah, kisah Putri Hijau merupakan fakta sejarah yang benar-benar terjadi. Hanya saja, dominasi unsur imajinatif membuat kisah ini seolah-olah fiktif.

Kisah Puteri Hijau erat kaitannya dengan kisah Kerajaan Aru yang pernah berjaya di Sumatera Timur. Sejarah mencatat bahwa laskar Aceh menyerang Kerajaan Aru. Sejak kejatuhan Aru ke tangan Aceh, Mc Kinnon, sejarawan Inggris menulis bahwa centrum kerajaan Aru yang baru berpusat di Deli Tua (Old Deli) serta dipimpin oleh ratu Aru yang didukung oleh Portugis dan Kerajaan Johor. Ratu Aru inilah yang disebut sebagai Putri Hijau.

Bukti-bukti peninggalan kisah Puteri Hijau ini ada di berbagai tempat di Sumatera Utara. Benteng alam Puteri Hijau di Delitua adalah salah satunya. Juga pecahan meriam yang ada di Istana Maimon. Meriam ini menurut Pinto, penguasa Portugis di Malaka pada tahun 1512-1515 dibeli dari seorang pelarian Portugis.

Meriam puntung yang ada di istana Maimon ini diyakini sebagai pecahan Nini Meriam Sukanalu. Patahan meriam ini diletakkan di bawah sebuah bangunan mirip Geriten Karo dan ditempatkan di sebuah bangunan adat Karo. Bukti keterkaitan kisah yang sama-sama diyakini kedua suku ini walaupun dengan versi berbeda.

Di Desa Sukanalu, Tanah Karo, yang dapat ditempuh sekitar 8 Km ke arah Tiga Panah bukti peninggalan itu berupa patahan meriam puntung yang diduga pasangan yang ada di Istana Maimon, meskipun menurut Putra Sitepu, juru kunci yang menemani perjalanan kami, pecahan tersebut belum pernah dicocokkan. Hingga sekarang situs ini anggap keramat oleh masyarakat setempat dan mempunyai nilai mistis. Situs ini kerap dibersihkan dan diberi cibal-cibalen atau sesajen.

Situs Meriam Puntung Yang Disakralkan Masyarakat Sekitar
Situs Meriam Puntung Yang Disakralkan Masyarakat Sekitar

Sukanalu dan Meriam

Perjalanan kami menuju Desa Sukanalu adalah perjalanan ingin tahu. Rasa penasaran membawa kami ke sana.

Ternyata pecahan meriam tersebut berada dalam kompleks sederhana. Dipagari dengan tembok dan diletakkan dalam sebuah bangunan permanen berterali besi dengan atap ijuk mirip dengan rumah adat karo. Sekeliling kompleks tumbuh bermacam pohon besar sejenis beringin. Ukurannya sangat besar. Akar-akar tunggangnya kelihatan jelas. Menyembul di tanah. Beberapa terlihat menjuntai, memberi kesan mistis tempat ini.

Lokasinya tak jauh dari pemukiman penduduk. Begitu sampai di Desa Sukanalu, penduduk desa akan segera memberi tahu arah dan tak sungkan menunjukkan rumah penjaga atau juru kunci. Agaknya tempat ini biasa dikunjungi orang, sekadar ingin tahu seperti kami atau untuk berziarah seperti kebanyakan yang datang. Begitu menurut Putra Sitepu.

Sekitar Situs, Pohon Beringin Besar yang Memberi Kesan Tak Boleh Sembarangan
Sekitar Situs, Pohon Beringin Besar yang Memberi Kesan Tak Boleh Sembarangan

Ruangan kecil tersebut dikunci untuk mencegah pencurian. Pasalnya, dulu, pecahan meriam ini pernah hilang dicuri orang. Ceritanya, meriam ini dicuri oleh salah seorang dukun besar kampung untuk menambah kekuatan. Ritual pengembaliannya dengan mengadakan ritual panggil arwah leluhur. Setelah ditemukan kembali, pecahan meriam ini lebih dijaga keamanannya.

Ruangan 6×6 meter itu dipenuhi dengan puluhan kain putih menutup dinding dan langit-langitnya. Kain putih ini dalam bahasa Karo disebut Uis Dagangen. Biasa digunakan dalam upacara ada dan penyembahan leluhur. Kain ini dibawa oleh para pejiarah yang datang “berdoa” kepada meriam.

Entah untuk menambah suasana mistis atau sekadar bereksperimen, Putera menggesek-gesekkan jari telunjuknya yang terlebih dahulu telah dibasahi air ke sebuah mangkok yang juga sudah disediakan. Sebuah bunyi melengking menggema dalam ruangan. Ngik… ngik… ngik… Suara itu terus terdengar selama Putera menggesek-gesekkan tangan. Kami bergantian mencoba, tapi karena belum berpengalaman kami tidak berhasil menimbulkan bunyi seperti dilakukan Putra. “Untuk apa ini?” tanya saya penasaran. “Saya juga enggak tahu,” kata Putra terkekeh. Saya tidak bertanya lagi. Tohmenurut ilmu fisika itu terjadi karena gaya gesekan antara jari dan mangkok putih.

Saya Mengangkat Pecahan Meriam dengan Susah Payah
Saya Mengangkat Pecahan Meriam dengan Susah Payah

Kemudian kami meperhatikan pecahan meriam yang ada di depan kami. Diana, salah seorang teman, tidak mau masuk ke dalam ruangan itu. Ngeri katanya. Ia hanya melihat dari luar, dari balik jeruji besi. Beberapa tangkai kembang sedap malam ada dalam vas di ruangan tersebut. Aroma minyak rempah kuat tercium. Dua buah pembakaran rempah atau kemenyan ada di depan meriam. Meriam diletakkan di atas sebuah wadah seperti meja kecil yang telah dilapisi kain putih. Simbol penghormatan terhadap sesuatu yang dianggap sakral. Sepertinya pecahan ini adalah moncong meriam, melihat kepada bentuknya. Tapi saya juga tidak tahu persis.

Putra menyilakan kami mengangkat meriam. Biasanya para pejiarah juga melakukan itu. “Kami bukan mau jiarah atau minta sesuatu,” kata saya menjelaskan. “Oh, tidak apa-apa. Coba saja angkat,” saran Putra. Menurutnya hanya orang-orang yang berhati tulus saja yang dapat mengangkat meriam. Atau seseorang yang dengan yakin mengangkatnya.

Sang Juru Kunci Melakukan Ritual Kecil
Sang Juru Kunci Melakukan Ritual Kecil

Satu persatu kami bergantian mengangkat pecahan meriam yang mirip batu. Hanya satu orang yang berhasil padahal pecahan meriam kelihatan tidak tidak terlalu berat. Tidak ada yang tahu persis berapa beratnya. Pecahan ini belum pernah ditimbang, begitu menurut Putra. Yang pasti saya tidak berhasil mengangkatnya. Biasanya mengangkat galon air seberat 10 Kg saya dapat, tetapi pecahan meriam ini tidak. Saya memang sedikit nervous karena nunansa mistis yang dibangun di tempat ini.

 

sumber;http://kemanaaja.com/sukanalu-telusur-jejak-puteri-hijau-di-tanah-karo/

Dipublikasi di artikel | Meninggalkan komentar

Gua Liang Dahar

Gua Liang Dahar ini salah satu lokasi yang wajib dikunjungi bagi yang suka berpetualangan. Letak gua ini berada di Desa Lau Buluh Kecamatan Kuta Buluh Simole Kabupaten Karo Sumatera Utara. Gua Liang Dahar ini termasuk gua yang sangat fantastik dan ekstrim untuk di kunjungi.

#EDISI KE 3 TEAM GGS

Gua Liang Dahar terdiri 3 ruang besar dengan ukuran masing–masing 500 m², 400 m² dan 300 m², serta ruang ukuran kecil lainya. Di dalam gua terdapat mata air yang mengalir melalui terowongan kecil ke Desa Bekerah dan diatas dinding gua terdapat sarang burung layang–layang dan kalong serta didalam ruangan ditemukan beberapa dinding atas tetesan air yang jatuh ke dasar permukaan gua. Bila kita ingin ke lokasi ini ada beberapa jalur, bila anda dari Medan menuju lokasi gua ini harus melewati Kota Berastagi dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam dan jarak dari Berastagi ke lokasi ini sekitar 40 km.

Gua Liang Dahar 005Tanggal 22 Maret 2015 Team GGS yang terdiri dari 6 orang berangkat menuju lokasi jam 11.00 Wib. Team GGS berangkat dari Jalur Tigabinanga yang berjarak 30km dengan jarak tempuh 57 menit menggunakan 1 mobil dan 1 sepeda motor. Kami Team GGS mampir sebentar di desa Batu Karang untuk mengunjungi teman sambil mencari informasi tambahan tentang Gua Liang Dahar tersebut. Sambil berbincang-bincang Team mendapatkan telepon dari 2 orang teman kami bahwa mereka juga bersedia ikut karena sebelumnya mereka salah dapat informasi waktu keberangkatan, Team GGS bertambah menjadi 8 orang.

Gua Liang Dahar 006Dan Team GGS pun melanjutkan perjalanan menuju Desa Lau Buluh. Sesampai di Desa Lau Buluh kami mampir di Losd/Jambur (Losd = tempat yang di pergunakan warga untuk pertemuan atau acara tertentu), dan Team GGS menanyakan ke warga yang berada disalah satu kedai kopi dekat Losd. Di kedai kopi tersebut ada banyak warga yang sedang bersantai sambil ngopi, dari beberapa saran warga bahwa kami harus hati-hati bila menuju Goa tersebut karena medan yang berat dan menyarankan juga membawa pemandu ke lokasi tersebut agar mempermudah sampai ke tujuan.

Gua Liang Dahar 007

Gua Liang Dahar 010Jam 13.20 kami berangkat berjalan kaki bersama pemandu kami yang bernama Jeri Perangin-angin menuju lokasi. Awal perjalanan semua Team GGS memang masih santai dan hanya sedikit kelelahan karena rute dari Desa Lau Buluh ke lokasi jalan kebanyakan menanjak melewati perladangan warga setempat. Sepanjang jalan kita banyak melihat lahan pertanian warga dan beberapa lokasi tampak lahan perladangan banyak bebatuan besar. Ada sekitar 50 meter jalan sebelum sampai di depan mulut gua yang kondisinya jalan sedikit sempit dan sangat curam serta sangat licin. Perlu diperhatikan jika ke lokasi gua ini disarankan menggunakan sepatu yang cocok untuk jalan yang licin dan curam agar tidak terpeleset. Salah satu Team GGS yang bernama Tommy Sebayang karena terlalu bersemangat jatuh terpeleset tetapi tidak luka dan masih sempat tertawa 🙂 .

Jam 14.00 Wib Team sampai di depan Mulut Gua Liang Dahar Team GGS menyempatkan tradisi Team yang selalu berfoto selfi dan narsis abis, hahahaha. Ini beberapa hasil foto narsis team GGS :

Gua Liang Dahar 001

Gua Liang Dahar Tampak dari Depan

Gua Liang Dahar 012

Team GGS sampai di mulut Gua Liang Dahar

Gua Liang Dahar 003

Depan Gua Liang Dahar Dari kiri ke kanan Octavianus Sinulingga (GGS…) – Fauzi Andri Sebayang (GGS 765) – Tommy Sebayang (GGS 704) – Muhammad Sudin Tarigan (GGS 058) – Liasta Sebayang/Bayanx Oke Jogja (GGS 807) – Haris Sembiring/Admin Tigabinanga.net (GGS 555) – Indra Pergogo Tarigan (GGS 153) – Muklis Sembiring (GGS 666)

Gua Liang Dahar 013

Depan Gua Liang Dahar

Gua Liang Dahar 016

Gua Liang Dahar Tampak Dari Dalam

Gua Liang Dahar 017

Gua Liang Dahar Tampak Dari Dalam

Gua Liang Dahar 019

Gua Liang Dahar Tampak Dari Dalam

Sekitar 1 jam lebih kami mengintari ruangan dalam Gua Liang Dahar, didalam gua sangat lembab dan dingin dan berkabut. Didalam gua terutama dinding atas gua banyak Kalong dan sesekali Kalong mengeluarkan suara. Dan beberapa bagian ruang semakin sedikit oksigen nya.

Gua Liang Dahar 020

Team GGS sedang merayap untuk bisa masuk ke ruang gua yang lain

Gua Liang Dahar 021

Team GGS sedang merayap untuk bisa masuk ke ruang gua yang lain

Gua Liang Dahar 024

Team GGS masih tetap berselfi ria, hehehe

Gua Liang Dahar 025

Berselfi ria dengan khas Team GGS di dalam Gua Liang Dahar

Gua Liang Dahar 027

Berselfi ria dengan khas Team GGS di dalam Gua Liang Dahar

Gua Liang Dahar 029

Team GGS keluar dari Gua Liang Dahar

Setelah puas mengeliling dan mengamati Gua Liar Dahar Team GGS keluar dari gua. Dari hasil petualangan bahwa Gua Liang Dahar ini kami rekomendasikan sebagai objek wisata yang patut dikunjungi terlebih bagi yang suka petualangan sedikit esktrim dan kami jua rekomendasikan juga buat para pelajar sebagai objek belajar. Team GGS tetap menyarankan agar bagi berkunjung ke lokasi ini agar tetap menjaga kebersihan dan jangan membuang sampah sembarang di dalam gua dan melestarikan Gua Liang Dahar tersebut agar tetap lestari.

Demikian edisi ketiga Team GGS kali ini, dan tunggu petualangan kami berikutnya. Sesuai slogan GGS (Ganteng Ganteng Singalorlau) yaitu Menggali Potensi Pariwisata agar semakin dikenal dan banyak yang mengunjungi lokasi Gua Liang Dahar.

Team GGS yang mengikuti petualangan :

  1. Liasta Sebayang/Bayanx Oke Jogja (GGS 807)
  2. Haris Sembiring/Admin Tigabinanga.net (GGS 555)
  3. Muhammad Sudin Tarigan (GGS 058)
  4. Fauzi Andri Sebayang (GGS 765)
  5. Indra Pergogo Tarigan (GGS 153)
  6. Muklis Sembiring (GGS 666)
  7. Tommy Sebayang (GGS 704)
  8. Octavianus Sinulingga (GGS …)
 sumber: http://tigabinanga.net/gua-liang-dahar/
Dipublikasi di artikel | Meninggalkan komentar

berwisata alam ke Tahura

Taman Hutan  Raya Bukit Barisan atau Tahura terletak di desa Tongkeh Kabupaten Karo yang merupakan lintasan jalan raya antara Kota Medan dan Kota Berastagi yang berjarak sekitar 61 km arah Barat daya kota Medan , banyak dikunjungi wisatawan umumnya pada hari libur untuk menikmati alam hutan yang masih hijau dan sejuk. Tahura berintikan kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi denga luas seluruhnya 51.600 Ha yang sebagian besar merupakan hutan lindung berupa hutan alam pegunungan yang ditetapkan sejak jaman Belanda, meliputi Hutan Lindung Sibayak I dan Simancik I, Hutan Lindung Sibayak II dan Simancik II serta bagian lain kawasan Tahura ini terdiri dari Taman Wisata Sibolangit, Langkat Selatan, Lau Debuk-debuk dan Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit.
Kawasan hutan Tahura didominasi oleh jenis-jenis pohon pegunungan baik jenis lokal maupun yang berasal dari luar. Beberapa jenis tersebut antara lain : Pinus Merkusii, Altingia exelsa, Schima wallichii, Podocarpus sp, Toona surei dan jenis yang lain seperti Durian, Dadap, Rambutan, Pulai, Aren, Rotan dan jenis tanaman yang berasal dari luar diantaranya : Pinus caribeae, pinus khasia, Pinus insularis, Eucalyptus sp, Agathis sp, dan lain sebagainya.
Beberapa fauna yang hidup di kawasan ini antara lain : monyet, harimau, siamang, babi hutan, ular, elang, kecil, rusa, treggiling, dan lain-lain.Di Tongkeh telah tersedia fasilitas penginapan, ruangan primer, perpustakaan, restoran, panggung budaya, juga aktrasi tunggang gajah dan bagi mereka yang ingin bersafari dapat memanfaatkan gajah tersebut, serta sarana karantina satwa. Selain untuk wisata , lokasi Tongkeh juga cocok untuk kegiatan penelitian,  olah raga misalnya Lintas Wisata Alam dan sebagainya
 Tahura Bukit Barisan merupakan Tahura ketiga di Indonesia yang ditetapkan oleh Presiden dengan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 48 Tahun 1988 tanggal 19 Nopember 1988. Pembangunan Tahura ini sebagai upaya konservasi sumber daya alam dan pemanfaatan lingkungan melalui peningkatan fungsi dan peranan hutan.
Tahura Bukit Barisan adalah unit pengelolaan yang berintikan kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi denga luas seluruhnya 51.600 Ha. Sebagian besar merupakan hutan lindung berupa hutan alam pegunungan yang ditetapkan sejak jaman Belanda, meliputi Hutan Lindung Sibayak I dan Simancik I, Hutan Lindung Sibayak II dan Simancik II serta Hutan Lindung Sinabung.
Bagian lain kawasan Tahura ini tersiri terdiri dari CA/TW. Sibolangit, SM. Langkat Selatan TW. Lau Debuk-debuk dan Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit.

Kawasan hutan ini didominasi oleh jenis-jenis pohon pegunungan baik jenis lokal maupun yang berasal dari luar. Beberapa jenis tersebut antara lain : Pinus Merkusii, Altingia exelsa, Schima wallichii, Podocarpus sp, Toona surei dan jenis yang lain seperti Durian, Dadap, Rambutan, Pulai, Aren, Rotan, dan lain-lain.
Jenis tanaman yang berasal dari luar diantaranya : Pinus caribeae, pinus khasia, Pinus insularis, Eucalyptus sp, Agathis sp, dan lain-lain.
Beberapa fauna yang hidup di kawasan ini antara lain : Monyet, harimau, siamang, babi hutan, ular, elang, kecil, rusa, treggiling, dan lain-lain.

Sebagian dari Kawasan Tahura, terutama sekitar Tongkoh dan Brastagi telah berkembang menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang penting di Sumatera Utara.
Faktor penunjang utama sebagai obyek wisata adalah udara yang sejuk, vegetasi alam yang baik dan pemandangan alam yang indah, sumber air dan danau Toba serta budaya yang memikat.
Disamping itu sarana prasarana juga cukup memadai, seperti : jalan raya dengan kondisi yang baik dan mulus yang menghubungkan sebagian besar kawasan Tahura, sarana akomodasi dan penginapan, lokasi perkemahan dan jalan setapak dibeberapa kawasan.
Bagi yang berminat didunia penelitian (research), Tahura Bukit Barisan juga dapat dijadikan gudang ilmu pengetahuan. Penelitian tidak terbatas pada bidang flora dan fauna saja tetapi juga mencakup bidang hidrologis serta sosial budaya.

Sarana akomodasi dan penginapan sudah tersebar disekitar, mulai dari Sibolangit sampai dengan Brantagi baik berupa penginapan sederhana maupun hotel berbintang taraf international. Sebagai jantung utama Tahura Bukit Barisan berada di Tongkoh.

Di Tongkoh ini telah disediakan fasilitas penginapan, ruangan primer, perpustakaan, restoran, panggung budaya, juga aktrasi tunggang gajah, serta sarana karantina satwa. Selain untuk wisata , lokasi Tongkoh juga cocok untuk kegiatan penelitian, olah raga misalnya Lintas Wisata Alam dsb.
Masyarakat yang bermukim disekitar Tahura Bukit Barisan terdiri dari suku Melayu, Karo, Aceh dan Batak. Mata pencarian penduduk utamanya adalah petani dan pekebun. Produksi utama sayur mayur adalah kol, buncis, wortel, sawi, buah-buahan seperti jeruk Tanah Karo sangatlah terkenal demikian pula buah markisa banyak dikebunkan disini dan dapat dinikmati rasanya dalam bentuk sirup markisa.

Pemerintah Daerah sangat berkenan dalam pengembangan budidaya ini, misalnya dalam pentas budaya, pameran buah dalam Festival Buah yang diselenggarakan tiap tahun dsb. Upaya pelestarian budaya, budaya juga dilakukan terhadap peninggalan rumah adat seperti di Lingga.
Kawasan Tahura Bukit Barisan memiliki dua buah Gunung yaitu Gunung Sibayak (2.211 m) dan Gunung Sinabung (2.451 m), gunung ini sering menjadi tantangan bagi para pendaki untuk menaklukkannya. Dianjurkan bila ingin mendaki gunung ini minta izin lebih dahulu kepada instansi yang berwenang, untuk persiapan segala sesuatu serta sangat diperlukan adanya pemandu keselamatan

Dipublikasi di artikel | Meninggalkan komentar

Danau Lau Kawar yang Eksotis Tapi Berbalut Mistis

Karo – Sumatera Utara terkenal dengan Danau Toba. Tapi selain itu, ada pula Danau Lau Kawar yang tak kalah cantik. Namun, ada kisah mistis di balik keindahannya.

Danau Lau Kawar ada di kaki Gunung Sinabung, sekitar 30 km dari Kota Medan. Tepatnya, di Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Danau ini menampilkan keindahan yang memanjakan mata, namun pasca letusan Gunung Sinabung turisnya memang tidak seramai dulu.

Dari informasi yang dikumpulkan detikTravel, Kamis (20/10/2016), sepanjang perjalanan menuju danau traveler akan menikmati keindahan kawasan Gunung Sinabung. Sesampainya di tujuan, terlihatlah Danau Lau Kawar dengan air berwarna kehijauan.

Suasana yang sejuk begitu terasa. Sekadar duduk di tepian danau sambil menikmati pemandangan perbukitan hijau dan Gunung Sinabung pun cukup menyenangkan. Apalagi danaunya bersih dari sampah. Kalau mau kemping pun tersedia area mendirikan tenda yang cukup luas.

(Rudi Chandra/d'Traveler)(Rudi Chandra/d’Traveler)

Namun di balik keindahan danau, rupanya pernah ada traveler yang kerap diganggu makhluk halus. Seorang member d’Traveler bernama Nina Widiyahwati beberapa waktu lalu pernah menceritakan kisah seramnya kepada detikTravel.

Ia datang ke Danau Lau Kawar bersama 10 orang temannya. Tapi belum sampai ke sana, traveler-traveler ini sudah diganggu. Menurut informasi dari orang pintar setempat, ada penunggu yang tidak suka lantaran salah satu dari rombongan ini ada yang membuang puntung rokok sembarangan.

Sebelum melanjutkan perjalanan, orang pintar tersebut membekali mereka dengan air putih. Mereka kemudian tetap menuju danau untuk kemping, tapi karena kabut terlalu pekat akhirnya harus bermalam di penginapan.

(Rudi Chandra/d'Traveler)(Rudi Chandra/d’Traveler)

Tak disangka, sepanjang malam di penginapan mereka terus diganggu makhluk halus. Dari penampakan bahkan kesurupan bergantian. Tapi hal ini tak membuat mereka menyerah dan buru-buru pulang.

Pagi harinya, Nina dan teman-temannya tetap jadi datang ke Danau Lau Kawar. Mereka berjalan-jalan di danau karena masih penasaran seperti apa keindahannya. Nina merasakan suasana tenang, sepi, namun ketenangan itu dirasa aneh.

Lagi-lagi Nina kesurupan. Ia kembali sadar dengan bantuan temannya. Tak lama kemudian akhirnya mereka memutuskan untuk langsung pulang saja agar tak lagi mengalami kejadian aneh.

Kalau penasaran dengan cerita langsung dari Nina, dia pernah menuliskannya di sini. Nah, buat traveler yang ingin ke Danau Lau Kawar, tak ada salahnya untuk berhati-hati dan tetap menjaga sikap, agar tak mengalami kejadian yang tak diinginkan.

(Rudi Chandra/d'Traveler)

 

sumber : https://travel.detik.com/domestic-destination/d-3325184/danau-lau-kawar-yang-eksotis-tapi-berbalut-mistis

Dipublikasi di artikel | Meninggalkan komentar

Rumah Adat Karo di Desa Lingga Sumatera Utara

Rumah Adat Karo di Desa Lingga – Pernah ke kota Berastagi kan? Yah, Berastagi identik dengan masyarakat bersuku Karo. Tahukah anda, bahwa tidak jauh dari Kota Berastagi terdapat sebuah Desa Budaya yang masih memiliki Rumah Adat Karo yang sudah berusia Ratusan Tahun. Desa Lingga merupakan sebuah Desa Budaya yang ada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Desa yang masih menyimpan peninggalan Budaya dan Sejarah Karo.
Pada cerita sebelumnya saya berwisata ke Danau Lau Kawar pada Kamis, 15 Mei 2014? pada hari itu juga, saya sempatkan sejenak untuk melihat langsung Rumah Adat Karo yang sudah berusia ratusan tahun di Desa Lingga ini. Hanya memerlukan waktu sekitar 2,5 Jam dari Kota Medan untuk sampai ke Desa Lingga ini menggunakan Sepeda Motor. Jika memulai perjalanan dari Kota Medan, langsung saja mengarah ke Kota Berastagi dan melewati Pajak. Sesampainya di persimpangan empat yang terdapat sebuah Tugu Kol, langsung saja berbelok ke Kanan. Nanti akan terlihat sebuah Papan arah yang menunjukkan ke Desa Budaya Lingga berjarak sekitar 12 KM lagi.
Lokasi Desa Lingga
Terus saja mengikuti jalur utama. Selama perjalanan, dapat dilihat Gunung Sinabung yang begitu Indah dan Kokoh, meskipun saat itu terlihat gersang pasca letusan beberapa bulan lalu. Sekitar 15 menit berlalu, maka sampailah disebuah persimpangan empat dekat kantor Camat simpang Empat. Pada persimpangan ini, lanjutkan perjalanan dengan berbelok kekiri.

Arah ke Rumah Budaya Lingga
Terus saja jalan sampai menemukan simpang tiga yang dipinggir jalannya terdapat sebuah Tugu Sibayak Lingga.  Pada simpang tersebut langsung saja berbelok Kekanan. Lanjutkan perjalanan hingga anda sampai di Gapura atau gerbang bertuliskan Mejuah-Juah dan background dibelakangnya ada lah Gunung Sinabung. Keren kan?
Desa Lingga
Langsung Saja deh masuk kedalamnya dan ikuti jalan yang ada, setelah melewati gerbang tadi, jalan yang ada tidaklah mulus lagi, hanya berjarak kurang lebih 100 meter, kini sampailah di depan Rumah Adat Karo Desa Lingga. Terlihat ada dua Rumah Adat Karo yang masih berdiri kokoh dan masih ditempati. Padahal dulunya ada beberapa lagi Rumah Adat Karo di Desa Lingga ini, namun karena kurang perhatian dari pemerintah daerah tersebut, akhirnya rumah-rumah tersebut hancur dengan sendirinya karena warga tidak sanggup memperbaiki rumah tersebut tanpa adanya bantuan dana dari pemerintah daerah. Dua Rumah yang tersisa yaitu Rumah Gerga dan Rumah Belang Ayo serta satu lagi yang bernama Sapo Ganjang, ini merupakan tempat musyawarah.
Rumah adat karo
Rumah Adat Gerga didirikan sekitar tahun 1860an dihuni oleh 12 keluarga/Jabu dalam satu rumah tersebut. Rumah adat Belang Ayo didirikan sekitar tahun 1862 dan dihuni oleh 8 Jabu/keluarga. Rumah adat yang masih bagus dan dapat ditempati tersebut sebelumnya telah di perbaiki oleh kerjasama World Monuments Fund (WMF), Universitas Katholik Santo Thomas Medan, dan Badan Warisan Sumatera pada tahun 2012. Rumah Adat Karo memang unik, karena bangunannya tida menggunakan paku, melainkan hanya diikat-ikat dengan pasak dan Tali. Atap rumah dibuat dari ijuk. Pada kedua ujungnya terdapat anyaman bambu berbentuk segitiga disebut ayo-ayo.

Rumah adat karo

Pada puncak ayo-ayo terpasang kepala kerbau dengan posisi menunduk ke bawah. Hal itu dipercaya dapat menolak bala. Tinggi rumah sekitar 2 meter dari tanah yang ditopang oleh tiang, umumnya berjumlah 16 buah dari kayu ukuran besar. Kolong rumah sering dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan kayu dan sebagai kandang ternak. Rumah ini mempunyai dua buah pintu, satu menghadap ke barat dan satu lagi menghadap ke sebelah timur. Selain dua Rumah adat tersebut ada satu lagi yaitu Sapo Ganjang didirikan pada tahun 1870, tempat ini berfungsi sebagai tempat bermusyawarah/Runggu, dan juga digunakan sebagai tempat penyimpanan padi.

Sapo ganjang Desa Rumah Lingga
Setelah melihat Rumah Adat Karo, tidak ada salahnya untuk mampir ke Museum Lingga. Museum ini telah didirikan oleh Pangkowilham Kodam II Bukit Barisan, G.H Mantik pada tahun 1977. Museum ini dibuka secara resmi untuk umum pada tanggal 6 Juni 1989. Museum ini menyimpan 206 koleksi seperti peralatan dapur, topeng, kain, alat musik, alat berburu, alat pertanian, mata uang, dan berbagai benda bersejarah lainnya.

Museum Karo Lingga

Semoga saja Rumah Adat Karo di Desa Lingga akan selalu ada, dan berharap pemerintah daerah mau memberi perhatian lebih terhadap Rumah Adat Karo ini, karena ini merupakan bagian dari Budaya dan Sejarah di Indonesia. Sehingga kelak, anak dan Cucu kita bisa mengenal budaya dan sejarah serta dapat melihat langsung keunikan Rumah adat Karo ini, yang dibangun tanpa Paku.

sumber: http://www.medanwisata.com/2014/05/rumah-adat-karo-di-desa-lingga-sumatera-utara.html
Dipublikasi di artikel | Meninggalkan komentar

Air Terjun Sipiso-piso

Air Terjun Sipiso-piso merupakan salah satu tempat wisata di Pulau Sumatera. Berada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang tidak begitu jauh dari pemukiman penduduk Desa Tongging. Air terjun ini berada di perbukitan dengan ketinggian sekitar 800 mdpl dan dikelilingi oleh hutan pinus. Pengelolaan wisata alam air terjun ini dipegang oleh Pemda Kabupaten Karo. Dengan memiliki ketinggian sekitar 120 meter, Air Terjun Sipiso-piso merupakan salah satu air terjun tertinggi di Indonesia. Dengan adanya air terjun ini, Kabupaten Karo menjadi salah satu tempat wisata yang paling diminati oleh para wisatawan domestik dan mancanegara.

Objek Wisata

Air Terjun Sipiso-piso Sumatera UtaraAnda akan terkagum-kagum dengan pesona Air Terjun Sipiso-piso, ketika Anda berada di Desa Tongging, tempat di mana air terjun ini berada. Sebelum Anda melihat air terjun ini dari dekat, berkunjunglah di gardu pandang yang terletak di puncak bukit. Anda akan melihat hamparan keindahan Tanah Karo. Dari gardu pandang ini juga, Anda dapat menikmati keindahan Pulau Samosir, pulau yang berada di tengah Danau Toba.

Pemandangan Danau Toba dari  Air Terjun Sipiso-pisoSetelah Anda puas menikmati pemandangan nan indah dari jauh, Anda dapat melanjutkan perjalanan menelusuri punggungan bukit untuk bercengkerama dengan keindahan Air Terjun Sipiso-piso. Namun, Anda tidak perlu khawatir dalam menelusuri punggungan bukit tersebut, karena sudah disediakan jalur yang berupa anak tangga dan memang disediakan untuk para wisatawan. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai dasar air terjun ini. Dalam perjalanan tersebut, jangan lupa untuk mengabadikan momen indah ini dengan berfoto-foto dengan latar belakang Danau Toba.

Pesona Keindahan Air terjun sipiso-pisoSesampainya di dasar air terjun, arahkan pandangan Anda ke bukit-bukit yang ada di sekeliling air terjun. Dengan perpaduan hijaunya pepohonan pinus yang rimbun dan suara gemuruh air terjun, membuat suasana hati dan pikiran Anda terasa damai dan tenteram. Jangan lupa untuk membawa bekal makanan untuk dinikmati bersama keluarga Anda setelah lelah bermain air di Air Terjun Sipiso-piso.

Lokasi

Air Terjun Sipiso-piso berada di Desa Tongging, Kec. Merek, Kab. Karo, Sumatra Utara. Kecamatan Merek terletak kurang lebih 24 km dari Kota Kabanjahe.

Akses

Jika Anda menggunakan transportasi umum dari Medan, Sumatera Utara. Anda dapat menggunakan bus dengan jurusan Kota Kabanjahe dengan waktu kurang lebih 2 jam. Kemudian, setelah sampai di Kabanjahe, perjalanan dilanjutkan dengan bus menuju Danau Toba. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit dengan jarak tempuh sekitar 24 Km.

Fasilitas dan Akomodasi

Beberapa fasilitas di Air Terjun Sipiso-piso cukup memadai, seperti tersedianya lahan parkir dan warung makan. Untuk penginapan Anda bisa menemukannya di Desa Tongging dan Desa Kabanjahe. Untuk membeli oleh-oleh bagi kerabat atau teman, Anda bisa membelinya di toko souvenir yang ada di tempat wisata ini. Jika Anda masih punya banyak waktu, Anda dapat menyempatkan berkunjung ke Air Terjun Dua Warna yang berada tidak jauh dari Air Terjun Sipiso-piso

 

sumber: http://www.gosumatra.com/air-terjun-sipiso-piso/

Dipublikasi di artikel | Meninggalkan komentar

Bukit Gundaling, Berastagi, Destinasi Wisata Keluarga, Intip Keindahan Gunung Sibayak dan Sinabung

Objek wisata yang menawarkan panorama keindahan kota Berastagi adalah Bukit Gundaling yang berada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Bukit ini menjadi tujuan favorit bagi wisatawan yang mengunjungi Berastagi untuk melihat panorama alamnya, khususnya Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung dari bukit tertinggi.

Berjalan kaki sambil menyusuri puncak bukit Gundaling sungguh menyenangkan dan memberi sensasi tersendiri bagi wisatawan.

bukit gundaling
Selain menikmati pemandangan, pengunjung juga bisa berkeliling menaiki delman. (Tribun Medan/Silfa Humairah)

Sebab, dari bukit yang banyak ditumbuhi pohon pinus ini, wisatawan bisa melihat keindahan alam sambil menikmati udara Berastagi yang menyegarkan.

Selain pepohonan rindang, ada juga bunga-bunga indah serta patung manusia yang mengenakan pakaian adat khas suku Batak Karo.

Jika lelah menyusuri bukit, wisatawan bisa duduk bersantai di tempat yang telah disediakan, ada bangku dan bebatuan besar yang bisa diduduki.

Jika dianggap masih kurang santai, Anda dapat menyewa tikar dan tenda untuk melindungi embusan angin yang terkadang cukup kencang.

Boru Ginting, pemilik tempat sewa tikar menuturkan pengunjung yang menyewa tempat, biasanya yang membawa bekal makanan yang disiapkan dari rumah untuk dimakan bersama-sama dipuncak bukit Gundaling.

 

sumber: http://www.tribunnews.com/travel/2015/06/01/bukit-gundaling-berastagi-destinasi-wisata-keluarga-intip-keindahan-gunung-sibayak-dan-sinabung

Dipublikasi di artikel | Meninggalkan komentar

Lau Debuk Debuk

Sumatera Utara menawarkan keindahan alamnya yang begitu memesona. Kecantikan luar biasa alam Sumatera Utara dapat memanjakan begitu banyak manusia yang mengagumi dan menikmatinya. Namun, kecantikan itu ternyata tidak hanya dapat dinikmati oleh mata dan hati para pengunjungnya, tetapi juga ada yang dapat membawa manfaat bagi kesehatan, yang menjadi modal utama manusia untuk dapat terus menjalani aktivitas sehari-harinya.

Para wisatawan yang datang ke Sumatera Utara, tidak hanya dapat berkunjung dan berekreasi, tetapi juga dapat berelaksasi sekaligus terapi di objek wisata berupa pemandian air panas. Nah, ketika berbicara mengenai objek wisata berupa pemandian air panas di Sumatera Utara, tak pelak, rekomendasi akan tertuju pada sebuah tempat pemandian air panas bernama Taman Wisata Alam Lau Debuk Debuk.

Ketika para wisatawan berwisata ke Berastagi, biasanya kunjungan ke Lau Debuk Debuk menjadi agenda wajib dalam rangkaian wisata mereka. Objek wisata yang terletak di kaki Gunung Sibayak ini berjarak kurang lebih 10 km dari Berastagi, atau sekitar 58 km ke arah selatan kota Medan, berlokasi di ketinggian sekitar 2.100 km dari permukaan laut. Secara administratif, Taman Wisata Alam Lau Debuk Debuk terletak di Desa Doulu, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Tanah Karo.

Lokasi wisata yang dulunya pernah berstatus sebagai cagar alam sebelum dialihkan pemerintah menjadi  taman wisata ini memiliki cuaca yang sejuk dan kadang berkabut. Ditambah dengan daya tarik utama berupa kolam-kolam pemandian air panas, tak heran jika kawasan ini selalu menjadi tujuan menyenangkan bagi para wisatawan untuk singgah, relaksasi, sekaligus melakukan terapi kesehatan.

Sumber air panas di kawasan ini muncul dari retakan yang terbentuk akibat aliran lava di daerah selatan lereng gunung api Sibayak. Banyak orang mempercayai bahwa kandungan belerang di dalam air panas ini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit. Bahkan kesaksian datang dari berbagai pihak yang telah merasakan khasiat setelah berendam di pemandian air panas Lau Debuk Debuk ini dan kemudian terbebas dari penyakit kulit menahun yang sulit disembuhkan.

Mandi dan berendam di kolam pemandian air panas ini sering dilakukan banyak orang sebagai pengganti mandi sauna, dan tentu saja lebih mengasyikkan karena para pengunjung dapat bersatu dengan alam dan langsung disuguhkan dengan pemandangan hijau dari alam sekitar serta kegagahan gunung Sibayak.

Bila datang ke kawasan ini, Anda tidak akan menemukan kolam-kolam air panas alami karena banyak pengusaha yang melihat peluang bisnis wisata di kawasan ini sehingga mereka membangun kolam-kolam pemandian air panas yang langsung dialirkan dari sumbernya supaya dapat dinikmati dan memberikan kenyamanan yang lebih bagi para pengunjung. Kalau Anda beruntung, Anda bisa mendapatkan tempat yang indah dengan suguhan pemandangan alam yang luar biasa.

Kawasan Lau Debuk Debuk ramai dikunjungi para wisatawan terutama pada hari libur nasional. Puncak keramaian terjadi pada malam hari. Oleh karena itu, banyak pemilik kolam pemandian air panas yang membuka usahanya sampai 24 jam, walaupun ada juga yang membatasi kunjungan hanya sampai jam 24.00 malam.

Bila Anda menemukan kotak-kotak kecil dan juga sumur di sekitar kawasan ini, itu digunakan sebagai tempat pemujaan atau peletakan sesajen sebab lokasi Lau Debuk Debuk merupakan tempat yang dianggap suci dan keramat bagi penganut aliran kepercayaan Karo. Maka pada waktu-waktu tertentu, ada kegiatan ritual yang dilakukan oleh penganut aliran kepercayaan tersebut. Ritual ini bertujuan membersihkan diri dari roh jahat dan menghalau kesialan. Oleh karena itu, tempat ini juga dijadikan sebagai tempat wisata religi bagi banyak orang.

Untuk mencapai lokasi ini, sayangnya kendaraan umum jurusan Medan-Berastagi tidak masuk sampai ke kawasan Taman Wisata Alam Lau Debuk Debuk ini. Anda bisa turun di persimpangan di mana terdapat pos polisi Desa Doulu. Dari titik tersebut, Anda harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 1 km. Jika Anda menumpang kendaraan pribadi, Anda dapat terus masuk sampai ke lokasi dan cukup melanjutkan berjalan kaki sekitar 300 m.

Jika Anda sudah banyak membeli oleh-oleh dari Berastagi, jangan lupa berkunjung untuk relaksasi diri di Lau Debuk Debuk. Atau sehabis petualangan melelahkan mencoba menaklukan Gunung Sibayak, tidak ada salahnya berendam air panas untuk menghilangkan lelah dan penat di kaki gunung. Untuk masuk kawasan ini, Anda cukup membayar retribusi sebesar Rp 4.000,- (2012) dan membayar lagi ketika masuk ke tempat yang menyediakan kolam pemandian air panas sesuai tarif masing-masing dengan harga yang cukup terjangkau.

Di kawasan ini, Anda bisa mencari bungalow atau penginapan yang banyak ditawarkan untuk para wisatawan. Namun, jika Anda berada di Medan, beberapa hotel yang dapat dipilih sebagai tempat peristirahatan sementara bagi Anda dan keluarga antara lain Grand Sakura Hotel, Wisma Sederhana Budget Hotel, dan HL Days Inn.

 

sumber:http://medan.panduanwisata.id/wisata-alam/lau-debuk-debuk-antara-ritual-keramat-dan-kesehatan/

Dipublikasi di artikel | Meninggalkan komentar